Tuesday, November 09, 2010

Day 11

Setelah kita bahas masalah persiapan, maka bagaimana dengan aktifitasnya mengajar? Dari laporan yang masuk, masih ada guru penerima tunjangan sertifikasi yang belum melaksanakan tugas mengajarnya dengan baik. Dari kedisiplinan waktu sampai yang masih belum secara aktif mengajar.

Kembali kita berpatokan dari hasil riset, selama proses belajar mengajar menunjukkan hanya sedikit sekali guru yang menggunakan media dalam penyampaian materi pembelajarannya. Padahal, secara umum, minimal di setiap sekolah sudah tersedia LCD dan laptop. Pelatihan penggunaan alat-alat tersebut sudah sering dilaksanakan, baik secara informal maupun formal. Tetapi masih sedikit seklai guru yang menggunakan fasilitas ini.

Untuk kehadiran mengajarpun masih banyak yang bermasalah. Banyak laporan yang masuk, menyatakan bahwa si Guru A yang sudah disertifikasi, ternyata tidak mengajar sesuai sertifikasinya, atau bahkan ada yang tidak mengajar sesuai jam wajib. Padahal sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008, tentang Guru dan Dosen, jelas-jelas dinyatakan bahwa, tunjangan sertifikasi hanya diberikan kepada guru yang telah melaksanakan tugas dan kewajiban mngajarnya sebanyak 24 jam wajib dan sesuai dengan kompetensinya. Sayang laporan-laporan tersebut hanya bersifat lisan dan bukan tertulis. Karena kalau tertulis kan dapat ditindak lanjuti. Kadang timbul pertanyaan, mengapa dinas tidak turun mencari data yang sebenarnya? Jawabnya, Sudah! Tuh dengan menurunkan para Pengawas, dan hasil mereka kan dilaporkan. Ternyata tidak ada masalah tuh.

Selain itu, ketika mereka di dalam kelas, biasanya mereka hanya membawa buku pelajaran satu buah saja dan sudah kusan karena sering ditekuk dan dilipat serta kotor kena debu kapur, setelah itu mereka serahkan ke juru tulis kelas untuk ditulis di papan tulis. Tahu dong kegiatan siswa selanjutnya adalah mencatat. Jadi cocok dengan motto belajar dahulu kala. CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif dibalik menjadi CBAS, Cara Belajar Atur Sendiri atau Catat Buku Sampai Habis.

Hasil belajar model diatas akan menjamin seseorang siswa akan sangat mahir menulis dan tahan duduk berjam-jam di kelas dengan pandangan ke papan tulis dan buku tulis. Jadi, kalau hanya untuk menjadi Juru Tulis Desa sih, siswa-siswi kita sudah sangat siap. Mentaati perintah, baik atau buruk tidak masalah. Cocok untuk negara sosialis atau k----is.

Sewaktu di sekolah, saya sempat melakukan riset tentang presensi guru dalam melaksanakan tugas. Hampir semua guru pernah terlambat. Dua orang saja yang benar-benar tepat dan melaksanakan tugas mengajarnya dengan baik. Ketika rapat dewan guru saya beberkan data-data ini, bukan untuk menghakimi tetapi untuk menjadi bahan renungan bersama. Ssaya analogikan, jika kita ini perusahaan, maka sudah berapa kerugian perusahaan akibat keterlambatan ini. Nah, penjelasan itu dapat diterima dengan baik. Seharusnya, menurut saya, keterlambatan dalam mengajar jauh lebih berbahaya bila dibandingkan keterlambatan kerja. Kerugian bukan saja material, tetapi mental siswapun menjadi terkontaminasi. Padahal, hasil didikan kita sekarang baru akan ternikmati pada masa-masa yang akan datang. Pendidikan adalah investasi masa datang.

Untuk saat itu dan kemungkinan sampai sekarang, sekolah yang guru-gurunya telah hadir dan bertugas sesuai waktunya, menurut saya, adalah SDK Santa Maria. Saya juga pernah berdiskusi dengan dua kepala sekolahnya. Menurut mereka, memang ada saja guru yang mencoba bermalas-malasan, akan tetapi karena penegakkan peraturan yang jelas dan semangat mengabdi mereka yang memang sudah terdoktrin dengan baik dapat mengalahkan rasa malas mereka. Hm... dapatkah kita meniru semangat mereka? Dapat! Tinggal, maukah kita?

EOF hari 11.

Monday, November 08, 2010

Day 10

Berbicara mengenai sertifikasi guru, umumnya para guru sekarang yang telah dinyatakan mendapatkan tunjangan sertifikasi guru melalui SK PMPTK, sudah menikmati transfer dana langsung ke rekeningnya dan tanpa potongan serupiahpun. Besarnya tunjangan adalah sama dengan besarnya gaji pokok satu bulan gaji. Cukup besar. Sementara kita-kita yang mengurusnya hanya gigit jari sajah.... heheheh..... Sebagai informasi, untuk periode 2006-2008, jumlah guru Kotabaru yang sudah disertifikasi dan dibayarkan tunjangannya sebanyak 312 orang, sementara untuk tahun 2009, sebanyak 197 orang dan tinggal menunggu pencairan dari propinsi. Untuk tahun 2010 ini pesertanya 279 orang dan masih dalam proses penilaian.

Sesuai tujuan tunjangan tersebut, guru-guru penerima tunjangan harus benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya. Hasil riset kerjasama antara Bappeda Kotabaru dengan LPMP Kalsel tentang pelaksanaan standar proses kurikulum bagi guru-guru yang menerima tunjangan sertifikasi Kotabaru, tahun 2009 lalu, dengan sampel guru-guru penerima tunjangan sertifikasi dari 2006-2008, menunjukkan hal,, bahwa hanya 40 % saja dari mereka yang membuat persiapan mengajar. Padahal, seharusnya persiapan mengajar ini seharusnya sudah menjadi satu kesatuan dengan guru tersebut. Artinya, seseorang guru yang profesional, dengan ditunjukkan dengan menerima tunjangan sertifikasi, selalu membuat dan memenuhi seluruh kewajibannya dalam mengajar. Pemenuhan akan standar isi dan standar proses dari kurikulum seharusnya sudah menjadi kebutuhan dasar.

Karena ini merupakan hasil riset yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, maka kenyataan bahwa hanya 40 % guru yang sudah disertifikasi membuat persiapan mengajar akan memberikan asumsi sebagai berikut: “Baru 40 % Guru yang sudah tersertifikasi yang membuat persiapan mengajar, maka dapat dipastikan akan lebih dari 40% guru yang belum disertifikasi yang belum membuat persiapan mengajar”. Asumsi ini terjadi dikarenakan unsur profesionalitas tadi. Seseorang guru belum dapat dikatakan profesional bila belum mendapatkan sertifikasi. Apakah statement (asumsi) ini benar? Debatable. Apalagi bagi bapak-ibu guru yang telah berusaha melaksanakan tugas dan kewajibannya secara maksimal dan belum disertifikasi. Pasti protes keras. Ada kemungkinan babak belur saya dibuatnya. Kok bisa? Yah bisa saja. Saya 3 kali hampir dipukul guru bahkan kepsek penerima tunjangan sertifikasi. Untung saja saya masih dilindungi oleh Tuhan YME.

Sedemikian besar pengaruh persiapan mengajar terhadap hasil proses belajar mengajar di kelas karena akan sulit mencapai sesuatu bila tanpa dilakukan perencanaan terlebih dahulu.

EOF hari 10.

Sunday, November 07, 2010

Day 9

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen telah berjalan 5 tahun. Semangat UU ini yang mengakui Guru dan Dosen sebagai Profesi sangat jelas sekali. Secara jelas tergambar misi dari UU ini adalah:
1. Mengangkat martabat guru dan dosen,
2. Menjamin hak dan kewajiban guru dan dosen,
3. Meningkatkan kompetensi guru dan dosen,
4. Memajukan profesi dan karir guru dan dosen,
5. Meningkatkan mutu pembelajaran,
6. Meningkatan mutu pendidikan nasional,
7. Mengurangi kesenjangan ketersediaan guru dan dosen antar daerah, baik dari segi jumlah, mutu, kualifikasi akademik maupun kompetensinya,
8. Mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antar daerah, dan
9. Meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.

Berdasarkan tujuan dan misi diatas, kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat guru serta perannya sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sejalan dengan fungsi tersebut, kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berlimu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Penjelasan ini dapat dibaca lebih lanjut pada Penjelasan UU ini. Nah, kalau kita cermati, sudah jelas tergambar hal-hal penting yang harus menjadi perhatian para guru.

Klo kita lihat jumlah guru di Kotabaru berdasarkan NUPTK yang dapat diakses di http://nuptk.kemdiknas.go.id/content.php?pageid=2. maka jumlah guru di Kotabaru sekarang berjumlah 3670 orang. Sesuai UU guru dan dosen, persyaratan kualifikasi akademis seseorang untuk menjadi guru adalah minimal mempunyai kualifikasi S1/DIV. Sejauh ini, hampir separuh guru di Kotabaru yang belum memenuhi standar kualifikasi tersebut. Untuk daerah kota, mungkin tinggal sedikit, akan tetapi kalau yang bertugas di luar kota, dalam hal ini luar Pulau Laut Utara, masih sangat banyak sekali, khususnya guru yang bertugas di Sekolah Dasar. Hal ini terjadi disebabkan oleh banyak faktor, utamanya, mereka yang belum S1/DIV adalah guru senior, minimal sudah mempunyai masa kerja 20 tahun, yang pada saat itu, pengangkatan guru SD masih diperbolehkan dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Nah, karena mereka ditempatkan di remote area, maka sangat kecil kemungkinan bagi mereka untuk dapat melanjutkan studinya ke jenjang S1/DIV. Hambatan mereka terutama pada lokasi Perguruan Tinggi yang sangat jauh, misalkan Unlam di Banjarmasin. Bila melalui jalur UPBJJ-UT pun harus ke Kotabaru. Sangat jauh. Dapat kita perkirakan kesulitan yang mereka hadapi, ambilah kasus bila mereka yang bertempat tinggal di wilayah Pulau Laut Selatan melanjutkan studi melalui UPBJJ-UT di Kotabaru. Biaya perkuliahan yang cukup murah akan sangat tidak sesuai dengan kegiatan tutorial yang harus mereka ikuti, yang biasanya 2 minggu sekali. Selain itu biaya-biaya tutorialpun yang tidak sedikit harus mereka tanggung.

Untuk menempuh perjalanan ke Kotabaru saja mereka sudah sulit, belum mereka harus belajar dari modul-modul dan menyelesaikan tugas-tugas rumah. Sangat menyiksa dan menyulitkan. Itulah realita di kotabaru.

Ketika sertifikasi guru dilaksanakan, maka meledaklah permasalahan standar kualifikasi ini. Persyaratan peserta yang minimal mempunyai kualifikasi pendidikan S1/DIV telah menimbulkan gejolak terhadap guru-guru senior tadi yang nota bene belum berkualifikasi S1/DIV. Maka, berlomba-lombalah mereka mencari perguruan tinggi untuk mendapatkan gelar S1/DIV agar dapat mengikuti sertifikasi guru.

Apapun semangatnya, sertifikasi guru ini telah memberi dampak yang positif kepada guru. Setiap tahunnya, jumlah guru yang mengurus surat ijin belajar meningkat tajam. Baik yang belajar di perguruan tinggi di UPBJJ-UT di Kotabaru, Unlam di Banjarmasin ataupun perguruan tinggi di luar Kalimantan Selatan. Untuk sebagian guru yang berdomisili di daerah yang remote, ataupun yang ingin mendapatkan gelar dengan cara instant juga tersedia fasilitas itu. Sejunlah kelas jauh dari perguruan tinggi di jawa bertebaran di Kotabaru. Umumnya cukup mengikuti perkuliahan beberapa kali atau bahkan diwakili saja, maka gelar S1/DIV sudah dapat diterima. Tentu konsekuensi logis dari semua ini adalah sejumlah uang yang harus mereka bayar.

Seringkali ketika saya meneliti persyaratan para peserta sertifikasi guru saya menemukan pemakaian gelar yang didapat dari kulaih kelas jauh ini. Ada dua orang yang pernah saya tanyakan proses mereka mendapatkan gelar ini. Semua sama. Hm.. andaikata murid-murid kita juga tidak perlu masuk sekolah setiap hari dan para guru juga tidak perlu mengajar setiap hari, sama seperti mereka mendapatkan gelar mereka, sepertinya asik banget tuh....

Untuk mereka yang melanjutkan studi ke beberapa perguruan tinggi yang menjadi mitra pemerintah, maka pemerintah telah memberikan bantuan berupa beasiswa untuk pembayaran SPP setiap tahunnya. Selain itu, juga telah diberikan biaya trasportasi kepada mereka yang melanutkan studi dengan pembiayaan dari Dinas Pendidikan Propkalsel di Unlam Banjarmasin.

Pertanyaannya, mengapa pemerintah tidak memberikan bantuan kepada guru-guru yang melanjutkan pendidikan secara instant seperti penjelasan di atas? Apa bedanya dengan yang melanjutkan ke perguruan tinggi yang menjadi mitra pemerintah? Toh, mereka sama-sama akan menyandang gelar S1/DIV. Apakah secara kualitas mereka berbeda? Au ah... gelap.

EOF hari 9.

Saturday, November 06, 2010

Day 8

Kemarin, jumat, 5 Nopember 2010, sepulang dari kantor saya bergegas menuju pelabuhan fery Tarjun untuk menuju ke Serongga, tepatnya ke SMPN 1 Kelumpang Hilir, pukul 12.00 wita. Lama sekali rasanya saya tidak berkunjung kesana bertemu kawan-kawan yang seperti biasanya pasti ramah-ramah khas njawani, karena disana didominasi etnis jawa. Tujuan saya adalah untuk melihat perkembangan sekolah tersebut setelah dinyatakan lulus menuju sekolah SSN. Selain itu juga ingin melihat fasilitas internet kecamatan dari kemeninfo yang ditempatkan di sekolah tersebut.

Setelah kena kekempesan ban dijalan karena terkena paku, akhirnya saya sampai juga. Langsung saya berkeliling melihat lokasi sekolah yang memang cukup luas. Hm... asik rasanya melihat sekolah yang berhalaman luas ini. Ga sumpek.

Kalau melihat ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah ini, menurut saya masih belum memadai, akan tetapi sekolah ini telah memiliki rencana kerja sekolah yang cukup lengkap untuk menunjang tujuan nya menjadi sekolah SSN. Pertanyaannya, mengapa dengan kondisi yang masih belum memenuhi persyaratan, sekolah ini berhasil lolos dari verifikasi kemendiknas untuk dipersiapkan menuju SSN? Banyak faktor yang membuatnya dan dapat dijadikan contoh bagi sekolah lain. Sosok kepala sekolah yang memiliki integritas, komite sekolah yang responsif, dewan guru yang siap belajar dan lain sebagainya. Kecuali, sarana dan prasarana yang masih minim tadi.

Trus... sepertinya karena ini hari sabtu, biasa libur... rasanya kok jadi rada lelet nih mo menuangkan kata-kata.... oke deh.. selamat bermalam minggu aja.

EOF hari 8.

Friday, November 05, 2010

Day 7

Menyikapi pertanyaan, korelasi ketersediaan sarana dan prasarana dengan ketercapaian tujuan pembelajaran, sangat debatable tetapi semua akan kembali berpulang pada pelakunya. Sarana dan prasarana hanyalah tools untuk menunjang tercapainya tujuan. Ibarat pagelaran wayang, semua tergantung dalangnya. Klo kita sikapi sekarang, bahwa siswa bukan sebagai objek Pendidikan, melainkan subjeknya, maka dapat dimungkinkan siswa sebagai dalangnya. Dalang akan belajar kepada gurunya dalang. So, peran guru sekarang harus lebih sebagai fasilitator. Memfasilitasi siswa dalam menemutunjukan apa yang dilakukannya dalam proses belajar mengajar. Nah, sedemikian pentingnya fungsi guru disini. Artinya kembali pada pengertian dan fungsi dari sarana dan prasarana tadi, tools. Kembali ke Dalang.

Saya ingin share sebuah perjalanan saya dengan kawan-kawan guru bahasa inggris di SMK dulu. Saat itu, kami mempunyai 4 guru bahasa inggris yang mempunyai kemauan yang keras untuk maju dan kreatifitas yang tinggi. Tetapi belum tersalur sesuai keinginan mereka. Kebetulan saya suka sekali bahasa inggris, maka kloplah. Kami merencanakan membuka kursus dan pelayanan bahasa inggris untuk khalayak ramai di kotabaru. Rencana disusun sedemikian rupa, saya sangat menikmati diskusi-diskusi yang terjadi. Hingga akhirnya kita semua terbentur dengan masalah klasik, terbatasnya dana. Yah, dana. Kita perlu membeli itu ini tapi tidak punya dana. Duh… untungnya kondisi ini membuat kami lebih berfikir keras. Sampai suatu masa dimana kami bertekad untuk membuat kelas-kelas unggulan dengan modal seadanya, peralatan seadanya. Dan kami sangat menyadari, bahwa investasi yang akan dan telah kami lakukan ini baru akan dinikmati paling cepat 2 tahun ke depan.

Ternyata prediksi kami tidak meleset, dengan sarana dan prasarana seadanya, kami berhasil membentuk beberapa kelas unggulan dengan kemampuan bahasa inggris di atas rata-rata. Puncaknya, kami berhasil membawa siswa-siswi kami menjadi peringkat 9 nasional. Tetntulah cerita ini bersifat situasional. Hikmah dari kejadian ini, kami di sekolah sangat berkeyakinan bahwa untuk membuat sesuatu sarana dan prasarana hanyalah tools.

Keadaan sekarang, dengan dana BOS/BOMM yang dikucurkan pemerintah, dirasa masih sangat jauh dari cukup oleh rekan-rekan kepala sekolah untuk pemenuhan sarana dan prasarana. Hal ini sering saya dengar dari keluh kesah mereka ketika berjumpa dengan saya di kantor. Sedih juga saya mendengarnya. Saya dapat memahami bagaimana pusingnya memikirkan proses belajar mengjar bila terjadi kekurangan sarana dan prasarana, apalagi bila sang kepsek tidak memiliki semangat juang dan tidak memiliki kreatifitas yang tinggi untuk mencari solusi alternatif pemecahannya.

Riset korelasi antara ketersediaan sarana dan prasarana disekolah dengan keberhasilan pencapaian tujuan pengajaran di Kotabaru, memang setahu saya belum pernah dilaksanakan. Saya hanya pernah membaca beberapa penelitian tindakan kelas (PTK) yang pernah dilakukan oleh rekan-rekan guru tentang penggunaan media dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa. Misal, penggunaan power point untuk pengajaran cara sholat yang benar. Bila tidak menggunakan penjelasan yang disertai penggunaan power point, terjadi perbedaan hasil bila menggunakannya. Hal itu saya baca melalui PTK tersebut. Padahal secara logika sih ga perlu diteliti lagi, tetapi namanya PTK kan tingkatannya yah sampai ditu saja. Beda dengan riset yang lebih tinggi.

Berdasarkan hal diatas, perlu diadakan riset khusus untuk mengetahui efektifitas dan korelasi ketersediaan sarana dan prasarana terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.

EOF hari 7.

Thursday, November 04, 2010

Day 6

Sarpras, OSOL, SPM, keterkaitan/korelasi sarpras-prestasi
Pemerintah telah mengatur persyaratan standar sarana dan prasarana sekolah melalui Permendiknas nomor 24 tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana untuk sekolah dasar/madasrah ibtidaiyah (SD/MI), sekolah menengah pertama/madrasah tsnawiyah (SMP/MTs), dan sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA). Dalam permendiknas tersebut jelas telah diuraikan standar sarana dan prasarana yang harus dipenuhi oleh sebuah sekolah/madrasah. Sesuai dengan penjelasannya, maka standar tersebut hanyalah standar minimal yang harus dipenuhi oleh penyelenggara pendidikan.

Kalau kita baca dan cermati permendiknas tersebut, jelas-jelas telah memisahkan penjelasan sarana dan prasarana. Sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat dipindah-pindah. Sementara prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah. Sarana terdiri dari berbagai macam, begitupun prasarana. Untuk lengkapnya dapat diakses di http://www.kemdiknas.go.id/media/96040/permen_24_2007.pdf.

Kebijakan pemerintah dengan memberikan block grant langsung kesekolah-sekolah untuk pembangunan ruang kelas baru atau laboratorium juga block grant peralatan lainnya secara swakelola telah berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Tujuannya, jelas baik sekali, terutama untuk percepatan pemenuhan standar sarana dan prasarana serta mengurangi tingkat kebocoran jika masih menggunakan pola lama. Dilain pihak, hal ini telah menyibukkan pihak sekolah untuk membuat proposal penambahan ruang atau peralatan baru.

Dalam peraturan tentang pengadaan barang dan jasa, telah ditentukan agar dalam pengadaan barang dan jasa tidak diperkenankan menyebutkan nama merek dagang tertentu, melainkan hanya menyebutkan setara dengan. Hal ini telah menjadi celah untuk menafsirkan dari berbagai sudut. Misalkan, pengadaan komputer setara dengan core 2 duo. Interpretasi akan beragam terjadi. Ada yang menafsirkan merek berkelas seperti IBM, Dell, Apple dan lainya. Adapula yang menafsirkan lain, yang penting core 2 duo, ada merek zyrex, mugen, byon dan lainnya. Soal harga, silahkan kalkulasi sendiri. Kualitas? Tentu berbeda. Bak pepatah, ada uang ada barang. Klo ingin barang bagus, uangnya harus banyak juga dong. Padahal, patokan harga pasti diambil dari harga tertinggi di pasaran. Hayo… pilih mana? Sedikit untuk atau banyak untung?

Kembali ke pokok bahasan kita, sarana dan prasarana, maka tujuan yang mulia dari pemerintah ini, mempercepat pemenuhan standar sarana dan prasarana secara swakelola, secara teori berhasil sementara dalam prakteknya masih perlu dikaji ulang. Secara umum kondisi di Kotabaru, masih banyak sekolah yang belum memenuhi standar sarana dan prasarana ini. Kalaupun ada yang mendekati, masih sekedar asal ada saja. Contoh, keharusan satu sekolah satu lab, One School One Lab, untuk laboratorium komputer. Umumnya sudah ada, akan tetapi kalau kita lihat kedalamnya, jauh dari harapan. Seharusnya, satu siswa satu komputer dalam belajar. Hal ini berarti paling tidak di dalam laboratorium komputer terdapat 35 buah komputer siap pakai.

Apakah ketersediaan sarana dan prasarana akan menjamin tercapainya tujuan pembelajaran?

EOF hari 6

Wednesday, November 03, 2010

Day 5

Pandangan miring siswa agar rajin belajar, apa gunanya?
Wesss... klo ujian nasional sudah ada yang menghandle, buat apa belajar lagi? Secara dah ga ada gunanya lagih tuk belajar pelajaran di sekolah. Selain itu juga, buat apa mbuang-mbuang waktu dan tenaga buat mikirin mata pelajaran yang non UAN. Ga penting! Jadi, baik memikirkan yang lain atau sama sekali ga usah mikirin pelajaran. Masih banyak yang harus diberi perhatian. Sinetron yang menampilkan bintang-bintang yang ganteng dan cantik-cantik, reality show, Indonesia mencari bakat, Indonesian Idols, KDI atau apalah. Itu jauh lebih menarik. Facebook, Twitter, dan Social networking lainnya sudah menjadi kewajiban sehari-hari. Wah.. bisa kacau klo sampai tidak punya account di jejaring tersebut. Update status minimal 2 kali sehari. Hasilnya? Bisa dong menggunakan bahasa SMS or bahasa fesbukan yang serba irit. Hr gn g bs updte status? Kecian dch si agan yg 1 ne. Thx bntuanx.

Interpretasi suasana senang (sesuka hati) ini pun berdampak lain. Sering kita mendengar, di beberapa tempat terjadi demo dan pemberontakan teradap guru-guru yang sedang menerapkan disiplin secara benar, tetapi tidak membuat siswa-siswi senang. Jadi, prinsip sekali bagi siswa-siswi jika mereka merasa terkekang kesenangannya akibat sebuah perlakuan yang didasarkan penerapan peraturan sekolah, mereka akan memberontak. Salah satunya dengan turun ke jalan. Demo.

Organisasi siswa di sekolah, OSIS, mengalami perubahan paradigma juga. Osis harus merancang kegiatan-kegiatan yang trendy. Sesuai mode yang ada, kegiatan sosial, kalaupun ada, harus berkesan glamour dan meriah. Untuk kegiatan ekstra kurikuler harus yang moderen. Drumband, cheerleaders, dance, modeling, dan lainnya. Soal pembiayaan? Ga masalah. Minta ama Ortu. Selesai. Klo ga dikasih? Yah ga mau sekolah. Pasti dikasih kalau ancamannya begitu. Kalau tetap ga dikasih? Kabur dari rumah untuk beberapa hari. Wah... makin berat tuh akibatnya. Nah bagi yang kurang senang berorganisasi seperti OSIS, mereka membuat geng./kelompok. Geng ini secara organisasi tidak jelas bentuknya, tetapi mempunyai komitmen yang kuat. Jauh melebihi komitmen berorganisasi di OSIS. Sering kita lihat gambaran geng di sekolah ataupun geng di luar sekolah. Contohnya Geng Motor di Bandung dan kota-kota lainnya. Ini jelas menampakkan, siswa-siswi masih merasa kurang kesenangannya jika hanya mencari di sekolah saja, untuk itulah geng di luar sekolah dibentuk. Ga lucu dong klo sampe dibilang ga ngetren cara berpenampilannya.

Persaingan antar siswa antar sekolah menjadi terbuka, bagai api dalam sekam. Sedikit saja tersenggol maka tawuran akan terjadi. Di Kotabaru? Ada tuh ... jangan khawatir. Trendy juga dong. SMAn 1 Kotabaru vs SMKN 1 Kotabaru dan SMAN 2 Kotabaru vs SMKN 2 Kotabaru. Yah secara kesetaraan, lumayanlah pencapaian siswa-siswi di kotabaru ini. Walaupun secara kualitas dan kuantitas jika dibandingkan dengan tawuran di Jawa... yah masih jauh.

Klo para pendahulu kita masih hidup, tentunya mereka akan iri sekali melihat kondisi anak-anak sekarang. Mestinya mereka menyesal karena wafat terlebih dahulu dan tidak dapat menikmati alam kemerdekaan ini. Klo dahulu mereka harus bersembunyi dari kejaran para tentara penjajah, sekarang, anak-anak begtiu bebasnya menikmati bepergian kemana-mana. Klo dahulu mo memakai baju saja sulit sehingga sering tidak berbaju, klo sekarang mudahnya mendapatkan berbagai model baju, dari yang full sampai yang You can see even baju model robek-robek kena panasnya wedus gembel.

Nah, karena sudah terjamin dengan kelulusannya, otomatis telah tertanam dalam pikiran mereka, bahwa untuk meraih segala sesuatu tuh sangat mudah, tergantung dari kekaitannya. Ga perlu susah-susah. Filosofi, tanpa kerja keras, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga, memang semakin membumi. Paling tidak, mereka sekarang kan masih muda, yah menikmati dulu masa foya-foyanya.

EOF hari 5.
Sarpras, OSOL, SPM, keterkaitan/korelasi sarpras-prestasi

Tuesday, November 02, 2010

Day 4

Ok. Kita mulai dari hal terbawah dalam pembahasan ini. Siswa alias murid alias peserta didik.

Berdasarkan http://kotabaru.dapodik.org/rekap.php?ref=siswa&tipe=4&status=2 yang saya akses hari ini, selasa, 2 Nopember 2010, jumlah siswa se Kotabaru mulai TK hingga SLTA adalah 45.894 orang. Baik sekolah negeri maupun swasta. Menurut peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, siswa sebagai peserta didik harus memenuhi sejumlah kriteria, dimulai dari usia hingga minat dan bakat untuk sekolah khusus.

Secara umum, siswa-siswi di Kotabaru mempunyai kemampuan pikir di atas rata-rata. Selama saya bertugas di SMKN 1 Kotabaru, saya telah mencoba membuat sebuah kelas eksperimen yang bertugas sebagai pasukan khusus. Pasukan yang akan mewakili sekolah dalam berbagai lomba, khususnya lomba-lomba yang bersifat akademis. Mereka diberi perlakukan khusus dengan perhatian penuh. Dapat dibayangkan betapa sulitnya diawal-awal dalam menanamkan konsep-konsep untuk merubah paradigma berpikir mereka. Kami perlu dua tahun untuk memetik hasilnya. Puncaknya adalah ketika, tim debat berbahasa inggris kami berhasil menembus 9 besar nasional dalam lomba debat tingakt nasional di Semarang pada tahun 2004. Selain itu, untuk lomba-lomba bidang akademis, seperti lomba ketrampilan akuntansi, sekretaris dan manajemen bisnis. Ini artinya, kemampuan anak-anak kotabaru berada sejajar bahkan diatas anak-anak daerah lain. Hal ini kalau kita runut kebelalakang tidak dapat terbantahkan. Anak-anak Kotabaru pada umumnya mendapat asupan gizi dan nutri bagi otak dari hasil lautnya yang berlimpah. Sehingga kebutuhan akan omega 3 dan sejenisnya, yang sekarang begitu diboomingkan melalui iklan-iklan susu bayi, telah terpenuhi dengan baik.

Kondisi sekarang, secara umum siswa-siswi di Kotabaru sangat menikmati hidup dan kehidupannya tanpa direcoki oleh kehidupan dihari nanti. Kemajuan teknologi yang sedemikan pesat begitu memanjakan mereka. Hal ini dapat kita lihat dan rasakan. Hampir seluruh siswa di Kotabaru telah memiliki alat komunikasi berupa HP, baik yang jadul maupun yang high end. Begitu mudahnya mereka membuat sebuah rekaman, baik foto maupun video. Mereka juga sangat mudah mengakses dunia maya dengan mempergunakan koneksi GPRS yang semakin murah meriah. Coba tanyakan, siapa yang tidak kenal Ariek Peterpan dan Luna Maya? Rasanya tidak ada yang tidak tahu. Ga gaul lah kalau sampai tidak tahu. Di sekolahpun mereka disediakan komputer dengan sejumlah koneksi internet yang free, dan tidak menggunakan proxy untuk filtering content pornografi. Proses belajar mengajar berjalan harus dengan suasana menyenangkan, statement yang debatable menurut saya. Logikanya begini, kalau harus menyenangkan, berarti muridnya belajar dengan suasana hati yang senang. Identik dengan keinginan yang terpenuhi. Nah, pada usia sekolah, sudahkah disadari bahwa belajar itu penting? Selanjutnya, sudahkah hilang stigma negatif terhadap pelajaran MIPA? Untuk lebih menukik lagi pertanyaannya, “Usia sekolah apa sudah layak ditanyakan pertanyaan yang krusial dalam proses belajar mengajar tentang prosesnya itu sendiri? “ Artinya, menurut pendapat saya, bahwa proses belajar mengajar yang akan dilalui para siswa tidak dapat berdasarkan kemauan hati mereka untuk mencapai suasana yang menyenangkan tadi. Ooops.. arogan banget deh situ.... fotge it lah.

Anyway, anak sekarang belajar riang sekali, datang tidak perlu tepat waktu, pakaian tidak perlu rapih, tidak perlu susah-susah mengerjakan tugas rumah. Pokoknya menyenangkan sekali suasananya. Bila perlu, mendoakan agar gurunya tidak masuk atawa sakitlah agar tidak jadi ujian. Ingat iklan Mylanta Sirup? Soal absensi? Bisa diaturlah... Nilai kecil? Remedial dong... dijamin lulus dan tuntas. Untuk ujaian akhir nasional (UAN) pegimana? Ah.. gampang aja boss, begitu masuk ruang ujian, 10 menit pertama mengisi data pribadi, setelah itu lanjutkan duduk dengan senyamannya sambil sesekali membayangkan Ariel dan Luna Maya or Cut Tary. Nah, 15 menit sebelum waktu ujian habis, segera pegang dan amati HP, karena akan masuk SMS yang berisi kunci jawaban yang benar. Klo yang ini dijamin kebenarannya, karena masih fresh .... segar ... baru selesai dikerjakan... dan langsung di SMS dari tangan pertama. Dibanding dengan kunci jawaban yang beredar sebelum pelaksanaan ujian, tentu jauh beda dong. Selain itu, klo yang beredar diluar sebelum waktunya, untuk mendapatkannya biasanya harus dengan membayar sejumlah uang. Nah, kalau yang fresh ini ... nggratis.. tisss.... tisss.... sampai menit terakhir.

EOF hari 4.

Monday, November 01, 2010

Day 3

Kotabaru, sebagai sebuah kabupaten terluas di propinsi kalimantan selatan, terdiri dari 20 kecamatan, mempunyai lebih dari 400 sekolah baik negeri dan swasta, sekitar 4000 an guru baik PNS maupun Non PNS, dan sekitar 50.000 an siswa-siswi. Banyak sekali. Ini potensi yang luar biasa bila semua menyadari tugas dan kewajibannya. Sekolah, dalam hal ini bersama-sama dengan masyarakat sekolah, sudah diberi kebebasan oleh pemerintah untuk menentukan pilihan jalannya dalam menuju cita-cita pendidikan nasional. Kurikulum yang digunakan sudah berdasarkan keperluan tingkat satuan pendidikan, artinya dalam menyusun muatannya, yang meliputi apa-apa yang harus diberikan kepada siswa-siswinya, diserahkan sepenuhnya pada keputusan bersama masyarakat sekolah. Oya, masyarakat sekolah itu meliputi: Guru, Kepsek, TU, Siswa, Orang tua murid, stake holder dan para pemakai lulusan (user). Guru, kepsek dan TU, mutlak harus satu kesatuan. Murid ada persatuannya, OSIS. Orang tua murid, yah... komite sekolah. Stake holder yah Dinas Pendidikan. User? Perusahaan, lapangan kerja dan perguruan tinggi. Semuanya harus saling bersinergi bila berkeinginan tercapainya tujuan pendidikan.

Pemerintah juga sudah meluncurkan program-program perangsang ke sekolah. Misalnya, Rintisan Sekolah Berstandar Nasional dan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Semuanya tentu mempersyaratkan banyak hal pada sekolah-sekolah yang berminat. Sejauh ini, ada beberapa sekolah yang sudah diberikan tepatnya ditunjuk sebagai RSSN. Persyaratan lengkapnya dapat di search saja di Google. Sebelum lebih lanjut, SMKN 1 Kotabaru pernah mengajukan untuk dinilai sebagai sekolah SSN kira-kira tahun 2003. Walaupun hasil penilaiannya jauh dari harapan, tetapi saya pribadi cukup puas dengan hasil penilaian tersebut. Kesimpulan saya saat itu, memang berat untuk meraih predikat SSN.

Banyak manfaat yang didapat jika sebuah sekolah sudah dinyatakan SSN/SBI, salah satunya sekolah diberi kebebasan untuk berkreasi lebih luas lagi. Nah, kalau sudah begini, saya yakin, semua kepala sekolah sangat menginginkan status sekolahnya SSN/SBI. Sebab, menurut saya, kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang mempunyai kebebasan dalam menjalankan sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang memenuhi harapan masyarakat. Selain itu, salah satu faktor penentu keberhasilan seorang bupati adalah jika di daerahnya terdapat minimal sebuah sekolah SSN/SBI di tiap tingkatannya. Saya kurang tahu, apakah dinegara-negara maju juga berlaku parameter ini. Pastinya situasi berkembang kini adalah mayoritas kepsek sangat berambisi sekolahnya mendapat merek RSSN/RSBI. Suatu hal yang sangat positif. Oya, Dinas Pendidikan pun sangat berharap ada sekolah yang berhasil meraih merek SSN/SBI.

SSN/SBI kini sudha menjadi mimpi setiap orang. Mimpi bersama. Saya jadi teringat profesor saya waktu di Korea, Prof. Kim Yong Hwan. “Bila kau punya mimpi, maka utarakan kepada orang lain agar merekapun mempunyai mimpi yang sama, sebab jika hanya kita sendiri yang bermimpi, maka akan sulit menjangkaunya. Apabila banyak orang mempunyai mimpi yang sama, maka besar kemungkinan mimpi tersebut akan terwujud.” Brilian sekali falsafah beliau. Walaupun falsafah ini mempunyai kemiripan dengan konsep Prof. Yohanes Surya, ahli fisika Indonesia, dengan metode Mestakungnya. Mirip sekali atau sama persis. Wajar sajalah... mereka berdua kan sudah Profesor.

EOF hari 3.

Sunday, October 31, 2010

Day 2

Saya teringat seorang kawan senior saya, namanya Bapak Djoko Hardiono. Beliau banyak sekali menginspirasi saya. Saya kenal beliau pada tahun 1990, ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di bumi Kalimantan, tepatnya di Banjarbaru. Beliau bekerja di Kanwil Pertanian Propkalsel. Beliau sangat cerdas dan So Wise. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya aktifitas beliau baik didalam maupun diluar negeri. Kelebihannya adalah, sepulang dari luar daerah, baik kunjungan ataupun penataran, beliau langsung mengundang saya untuk melalukan sharing vision. Hm.. sebenarnya sih saya yang disirami hal-hal baru. Klo sudah begitu kami sampai tidak ingat waktu. Klo jam 12 malam saja sih kecil… salah satu teori yang beliau ajarkan kepada saya dan yang paling berkesan adalah Metode Cause and Effect Diagram. Metode sebab akibat. Sebuah metode temuan ilmuwan jepang. Metode yang dapat memecahkan masalah denganmenggunakan gambar tulang ikan, fish bone. Mantap suratap. Dan metode ini kembali diperkuat ketika saya mengikuti DIklat Calon Kepala Sekolah di Cianjur. Juga saya pakai sewaktu saya mengikuti E-Learning Training di Busan, Korea. Terima Kasih Pak. I am nothing without you. Oke, atas dasar inilah, maka saya hanya memotret keadaan sekitar dengan menggunakan metode ini agar bisa kita ambil kesimpulan bersama-sama. Bisa sama bisa saja tidak.

Ok.
Sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang dilaksanakan oleh negara. And then, untuk mengimbanginya, pemerinatah mengeluarkan Undang-undang Guru dan Dosen, yang salah satunya menekankan tentang persyaratan sesorang dapat dinyakan sebagai Guru. Misalnya, harus berkualifikasi S1/DIV, harus bersertifikasi dan lainnya. Furthermore, persyaratan S1/DIV harus sudah selesai pada akhir 2013, artinya, setelah tahun 2013 tidak ada lagi guru yang berkualifikasi di bawah S1/DIV. Titik. Sementara untuk sertifikasi guru, begitu kompleks masalahnya ketika diluncurkan pada tahun 2006. Tetapi untungnya pemerintah segera mengeluarkan regulasi dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 tentang Guru dan Dosen. Lumayanlah dapat mengurangi masalah yang timbul. PP ini hanya berlaku 5 tahun. Tujuannya jelas, untuk memberikan penghargaan kepada bapak/ibu guru yan sudah senior dan belum memiliki kualifikasi S1/DIV untuk dapat mengikuti proses sertifikasi guru. Akhirnya.

Pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 2009 tentang standar pembiayaan operasional sekolah. Wah.. enakkan? Ga perlu pusing lagi mengira-ngira pembiayaan di suatu daerah karena sudah ada indeksnya. Jadi, tinggal ikuti saja. Gampang. Selain itu untuk standarisasi kepala sekolah, pemerintah juga sudah mengeluarkan permendiknas tentang pengangkatan kepala sekolah dan pengawas. Untuk peraturan dan undang-undang lain yang berkaitan dengan dunia pendidikan kita silahkan cari dan lengkapi tulisan saya ini.

EOF hari 2.

Saturday, October 30, 2010

30 Days 2 The Truth, 1

Darimana harus dimulai? Seperti biasa klo udah mau menulis sgudang ide terjadi stagnan mendadak.. halah yang penting ga deadlock aja… weks…

Sudah sekian lama gw kerja di Dinas Pendidikan, selama itu pula gw terima banyak pertanyaan dan pernyataan tentang kondisi Pendidikan di SMKN 1 Kotabaru, awalnya, dan dilanjutkan kondisi di Kotabaru pada umumnya, kemudian. Apa keluhan or curhatan mereka yang nota bene adalah kawan-kawan guru dan kepsek, baik yang baru kenal atopun yang sudah lama? Biasalah, standar aja sih… “kenapa sekarang SMK kok mundur Pak?, kok kondisi Pendidikan kotabaru kayak gini pak? Kok si Anu diangkat jadi kepala sekolah di Sekolah A pak?.. halah… cape deh njawabnya. Sekian banyak yang bercurhat, tapi sedikit yang mengajak berdiskusi, padahal menurut gwe sebaiknya kita mendiskusikan segala sesuatu untuk lebih melatih kemampuan kita berfikir secara rasional bukan sekedar berkeluh kesah. Oke-oke.. lha sekarang apa yang mesti gwe tulis dari sekian banyak pertanyaan or curhatan yang masuk? Hm… setelah gw piker-pikir, sebaiknya gw akan membahas pernyataan tentang “Telah terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan dalam berbagai kebijakan Pendidikan kita”. Weh.. serem banget. Nggak apalah mo berpendapat kok takut.

OK beib, dasar pemilihan topik ni dikarenaken kuantitas pertanyaan ini paling banyak dan secara umum hampir sama dengan pertanyaan lain dan mestinya bisa menjawab secara keseluruhan pertanyaan masuk.

Nah, sementara tujuannya adalah untuk meluruskan pola pikir para kawan-kawan penanya tadi, maksudnya gini nih, klo sebelum mengeluarkan statement ke gue yah harus jelas dulu dalam konteks apa kita akan berngobrol. Misalnya, klo kita ngomongin masalah sakit perut kita klo dimarahin kepsek yah .. ga bakal menarik klo emang itu berdasarkan kesalahan yang dibuatnya, contoh: tuh guru kawan gwe dah ngga ngajar sekian hari berturut-turut, atawa terlambat terus. So, yah jelas salah dia tuh. Buat apa dia ngeluh?

Pembatasan pembahasannya? Klo misalnya nanti ada pernyataan dalam tulisan ini yang menimbulkan rasa eneg.. ato salah-salah kate yah mohon dimaafin kerna daku hanyalah manusia biasa. Semua terjadi kerna keerbatasan saya sebagai manusia. Hehehe… abstrakkan?

Klo ada yang berpikiran, kenapa harus membahas ini, kan Negara kita lagi tertimpa bencana, Banjir bandang di Wasior, Tsunami di Kepulauan Mentawai, dan terakhir ini, Erupsi Gunung Merapi di Yogjakarta? Saya jawab begini, minggu lalu saya baru saja kembali dari tugas luar selama 2 minggu ke Bandung dan Yogjakarta, membawa 20 guru IPA terbaik dan 20 Guru Matematika terbaik sekotabaru. Puji syukur, kejadian erupsi Merapi terjadi setelah rombongan kami kembali ke Kotabaru. Terima kasih Tuhan. Nah, akibat dari kejadian ini terjadi pergolakan didalam diri saya, selain itu saya sangat terinspirasi pada penulis buku dari USA sono, Elizabeth Gilbert. Oh, I love her. Kapan yah daku bisa berkunjung ke Amrik sono? Bertemu dengannya, lalu bilang, “Hei Lis, buku lo tuh bagus abis… gile bangget… gue ampe beli dua kali, satu versi Indonesia yang gw ga ngerti terjemahannya dan satunya terbitan UK. Nah, buku lo yang terbaru, gwe blon beli kerna harganya masih mahal banget, tapi gwe mohon izin punya copy digitalnya dikasih murid gwe. Untuk itu maafin yah atas pembajakan ini. Gwe yakin lo ga akan rugi Lis atas pembajakan ini.”

EOF hari 1.
Selanjutnya, latar belakang pikiran lo. terminologi topik,
Teori yang mendukung termasuk keputusan mentri, UU, or anything.

Tuesday, April 13, 2010

SErtifiKasi Guru Kotabaru 2010


Sabtu, 10 April 2010 kemarin, selesai sudah salah satu rangkaian kegiatan sertifikasi guru tahun ini. Portofolio seluruh peserta dikurangi 2 orang yang belum mengupulkan telah saya serahkan ke LPTK Rayon XVII di Unlam Banjarmasin. Lega rasa. Saatnya mulai melakukan evaluasi pelaksanaan.

KEPANITIAAN
Panitia dibentuk dengan sistem lintas bidang. Tujuannya sangat baik. Sayang beribu sayang, ide brilian ini belum terwujud dengan baik. Pemilihan anggota yang belum terkoordinasi dengan baik mengakibatkan agak tersendatnya pelaksanaan kesekretarian. Siapa yang salah? Pastinya saya, mengapa selaku ketua tim ga mampu mengayomi dan membimbing tim menjadi sebuah tim dengan kekuatan yang penuh sinergi.

KUOTA
Kuota 287 orang, terpenuhi hanya 279 orang. 8 tidak terpenuhi untuk guru SMA. Ini terjadi karena ada perbedaan yang signifikan antara data NUPTK di Pusat dan di Kotabaru sendiri. Mengapa hal ini dapat terjadi? Lebih kepada permasalahan pemahaman akAn pentingnya sebuah data. Kalau kita merasa berkepentingan dengan sebuah data, maka kita harus meng update nya. Kalau tidak? Begini akibatnya.

SISTEMATIKA
Tahun ini menurut saya merupakan sistematika kerja yang terbaik dalam pelayanan sosialisasi hingga pengumpulan portofolio. Dengan menggunakan sistem cluster dan kecamatan, pembimbingan dapat lebih dijangkau oleh peserta. Peserta cukup menemui pembimbing yang ditunjuk di kecamatannya untuk melakukan konsultasi. Setelah selesai, pada hari senin, 5 april 2010 dilakukan verifikasi oleh tim yang ditunjuk. Hasilnya? lumayanlah, walaupun belum 100 % benar, rata-rata peserta sudah memahami penyusunan portofolio yang sesuai buku petunjuk. Dua hari kegiatan verifikasi ini dilaksanakan. Dilanjutkan dengan penjilidan dan pengumpulan portofolio. Sampai hari terakhir masih ada 16 guru yang belum mengumpulkan. Hingga malamnya. tinggal 8 guru saja. H+1 terkumpul 4 buah lagi. Tiggal 2 orang lagi. Tapi karena sudah dikejar deadline ke Unlam, maka dengan terpaksa ditinggal.
Masalah yang dihadapi adalah kedisiplinan peserta dalam melakukan pembimbingan dan pengumpulan yang perlu ditingkatkan lagi.Beberapa kawan guru menyarankan untuk memberi tindakan tegas kepada yang terlambat, apa daya saya tidak mampu, karena sudah tidak boleh mengganti peserta lagi. Kalau boleh, pastilah sudah saya lakukan. Kalau ditinggal, sangat sayang kuota Kotabaru hilang dikarenakan segelintir orang yang suka lambat. Kesimpulan untuk yang satu ini, mungkin perlu ditinjau kembali Sertifikasi identik dengan Guru yang Profesional.

KESIMPULAN
Sertifikasi tahun ini berjalan lancar dengan segala kekurangannya.

Friday, March 12, 2010

Roxanne n Mr. Bean

Beberapa hari yang lalu saya menulis status fesbuk saya seperti judul posting ini. Ini terinspirasi pada konstelasi, ... halah politik kalee... Yah ... biasalah iklim kerja birokrasi. Jadi, dari pada saya kesal lebih baik saya bikin anti kesal dengan perumpamaan lucu. Roxanne adalah sebiah lagu dari The Police tahun 80 an.. Jadul banget.. tapi asik dan menggambarkan personifikasi yang menyebalkan. Sementara Mr. Bean? Tahu dong...

Pekerjaan di kantor sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan di sekolah. Semua hanya bersifat rutin yang dilakukan paling lama setahun sudah beres tuntas. Klo di sekolah, beda sekali prosesnya panjang dan hasilnya belum tentu lagi ditambah dinamikanya itu loh... kadang bikin kesel kadang menyenangkan, maka itu klo jadi guru itu pasti awet muda.

Saya tetap berharap agar terjadi terus reformasi birokrasi di kantor saya. Pastinya sekarang ini on the way menuju kesononya. Maju terus and always keep spirit Man!

Monday, March 01, 2010

Play Group


Selama ini saya kurang memperhatikan pentingnya Pendidikan Anak Usia DIni. Secara teori yah ... cukup memahami, hal ini lebih disebabkan karena seringnya diminta menjadi juri seleksi guru. Putri saya sudah memasuki usia 19 bulan. Sudah diajari berbagai permainan yang kami baca melalui buku dan teori Glen Doman. Sejauh ini hasilnya sudah terasa. Pastinya saya tidak ingin membandingkan perkembangan Putri dengan anak-anak lainnya. Sayapun sudah bersepakat dengan istri untuk selalu mempersiapkan alternatif solusi perkembangan anak kami.

Hasil kunjungan ke Makassar bulan lalu yang dilakukan rekan-rekan Bidang Pendidikan Non Formal, telah menambah referensi pikiran saya. Saya melihat rekaman anak-anak PAUD/Playgroup yang dapat bermain angklung dengan baik. Luar biasa! Metode yang mereka pakai perlu kita contoh. Setelah saya tanya lebih detail, ternyata minimal usia untuk masuk PG harus 2,5 tahun. So, Putri harus menunggu sampai Januari tahun 2011 untuk masuk PG.

Thursday, February 25, 2010

wHo wanna be aTEAcher?

Hari senien dan salassa kemaren saya berada di Komplek pabrik semen ITP Tarjun buat mentes calon guru SMA ITP Tarjun yang baru buka. Sore hari sepulang kantor saya bergegas ke pelabuhan penyebrangan Stagen ngejar Kapal Fery jam 18.00. Harinya gerimis dan sudah mulai gelap sampai di komplek ITP. Sayangnya saya ga pernah bertugas ke daerah ini, klo lewat aja sering. Setelah musing-musing mencari... akhirnya ketemu juga Guest house nya. Hehehhe.. lumayan bangget... tidur dengan layanan hotel berbintang tujuh... halah...:p

Esoknya, selasa pagi setelah sarapan yang enak saya langsung menuju ke lokasi tes tepatnya seleksi, di SMP ITP. Sebagian gurunya saya kenal. Masih muda-muda dan enerjik. Hm... andai seluruh guru di Kotabaru seperti anda-andi semua.... wow... senenngnya hati daku merancang kegiatan yang inovatif deh.. soale pasti banyak tantangan... Ada guru yang bisa ngomong Jepang...ohayou gozaimasu....heheheh... saya jawab,...genki desu..... ada yang bisa IT sambil nyerocos inggris... hehheeh... pokoke lengkap. Hm..... rindu jadi kepsek lageh nih....

Peserta tes tercatat 18 orang, dari beragam Perguruan Tipu, heheh tinggi lagi, Tes dibagi dua bagian, Tes untuk standar karyawan dan tes untuk keguruannya. Nah nyang keguruan ini jatah saya. Ini dibagi dua lagi. Teori keguruan dan Praktek mengajar. Sebelum dimulai, saya berdiskusi dahulu dengan panitianya. Intinya, saya ngomong ama mereka gini, "Lo jangan paksa gwe bilang guru ni bagus ngajarnya, padahal jelek!" hehheheh..... Dan tahukah jawabannya? gini nih, "Semua keputusan penilaian keguruan ada ditangan Bapak, dan kami tidak akan mengganggu gugat!"... Anda tahu dan pernah melihat langkah seorang cowboy yang menang waktu duel satu lawan satu? wakak..kakakkk.. begitulah langkah saya menuju ruang tes. Begitu masuk .. saya pandangi peserta tes satu persatu.hmm.. ada yang mirip Julia Perez ga nih.. klo ada bisa dicatat no hapenya nih... Heehheh lagi... pesertanya dah pada gugup...

Tes tertulis berlangsung 60 menit. Soalnya gampang2 susah. Lalu istirahat 15 menit dan ... mulailah tes mengajar... Hasilnya? Rasanya terlalu mahal deh klo mereka-mereka ini digajih 2,6 jt perbulan, bersih. dapet berbagai tunjangan. Tapi, semua terserah perusahaanlah.. yang penting saya mencoba menilai sebenar-benarnya dan Jujur saya katakan, Kita harus bekerja lebih keras lagih.

jaa, mata ne.
Sayounara.

Monday, February 08, 2010

Tressi Pongoh

duh.. malu lama ga ngeblog....:p
Mulai kemarin, 7 feb 2010 sampai 11 feb nanti, saya diminta PT. SILO untuk membantu menginterview siswa-siswi calon penerima beasiswa S1 dari perusahaan tersebut. Hm.. ada beberapa tes, dimulai psikotes. Saya tidak ikut. selanjutnya tes interview. Saya bersama dua orang lainnya bertugas pada tes ini. ada 45 orang siswa-siswi yang akan diinterview pada hari pertama ini. Seluruhnya berasal dari luar Pulau Laut Utara dan Timur. Sebelum dimulai, kami berdiskusi dulu untuk menyamakan persepsi pengetesan. Selain itu, hal-hal lain yang terkait.

Satu persatu peserta kami interview... banyak cerita sedih dan duka bertaburan.. dan kami sangat meyakini kalau cerita itu benar adanya. Saya pribadi menginterview sebanyak 17 orang, dari seharusnya 15 orang. Hal ini terjadi dikarenakan ada beberapa peserta yang tidak terlalu lama saya interview. Umumnya mereka melakukan kesalahan yang fatal di awal, sehingga dari pada buang-buang waktu untuk bertanya, saya menyngkatnya saja.

Beberapa siswa menunjukkan karakter yang kuat dan mereka layak saya usulkan untuk mendapatkan beasiswa ini. Hingga peserta yang ke 16, saya belum begitu mendapatkan pserta yang "wah". Saya mulai merasa lelah, saya istirahat sejenak dan menuju restroom. Setelah itu saya duduk kembali. Tak lama berselang datanglah seorang peserta menanyakan kesiapan saya untuk kembali menginterview... agak malas saya jawab, "yah..." Seperti yang lainnya saya beri tugas pertama lalu kedua... dan terjadi hal yang luar biasa... anak itu berbicara dengan penuh motivasi, motivasinya full, selain itu dia gunakan body language yang fantastic. Secara umum, saya merasa terkesan dan puas dengan apa yang telah ditunjukannya kepada saya. Sehingga timbul simpati saya dan dalam hati saya berucap, "kalau kamu tidak berhasil dalam seleksi ini, saya akan membantu membiayai kuliahmu."

Saya harap Tuhan besertamu.

Monday, October 19, 2009

Growing Up


Lama ga nulis karna tenggelam dalam kesibukan kantor dan Fesbukan. Lebih irit dan simple. Efek negatifnya, jadi ga terlatih nulis narasi yang panjang-panjang. Rugi seh...

Pekerjaan di kantor yang memang kubikin sendiri agar sibuk untuk menghilangkan aura negatif dari dalam tubuhku, sejauh ini cukup efektif. Pikiran ngeres dan angkara murka lumayan terkendali, terlebih waktu bertemu kawan2 guru yang diklat, duh.... senang sekali.... cerita2 lugu dan dilandasi kejujuran sangat jauh berbeda dengan di kantor. Plong rasanya kalau bisa tertawa lepas dengan kawan-kawan guru.

Sekarang sudah memasuki tengah bulan oktober 2009, Putri, anaku sudah tumbuh dengan sehatnya, lincah dan aktif, kalau ditelpon suka manggil2 ... rasa dicubit hati ini mendengarnya karna aku jauh disana. Ayah kangen Nak!

Iklim di kantor semakin jelas, outsider di bidangku sendiri... :p ... tak perlu disesali, ini kenyataan yang harus dihadapi dengan tegar dan lapang dada. Dunia berputar, suatu waktu pasti akan berubah menjadi baik.

Monday, June 29, 2009

Sertifikasi oh Sertifikasi

Tahun ini saya menjadi ketua tim sertifikasi Kotabaru. Pekerjaan yang gampang-gampang susah. Gampangnya, pekerjaan ini dah berlangsung mulai 2006, itu tandanya sudah ada portofolio pelaksanaan. Susahnya? Banyak! menghadapi calon peserta yang datang dari segala tingkatan pendidikan dan umur, phew.... melelahkan sekali. Hingga sewaktu sehabis mengumumkan calon peserta yang lulus seleksi awal, saya sudah mau dipukul oleh salah seorang Kepala SD. Heheheheh... gile bener tuh bapak kepsek, mo maen tinju ajah....

Kemarin, saya mengantar berkas sertifikasi yang hampir satu kijang penuh, saya hanya bisa jongkok di mobil. Perjalanan ke Banjarmasin, 8 jam perjalanan. Urusan sih lancar jaya, sampai kembali ke Kotabaru malam minggunya, hanya esoknya saya langsung KO, Muntah-muntah dan buang air ga berenti. Masuk angin. Sakit yang luar biasa, sampai saya harus mengundang rekan Budi Bejo untuk mengerok badan saya untuk mengurangi anginnya. Sakit dikerok, ternyata belum mampu mengurangi sakit. Oh.. nasib... demi sertifikasi sampe harus sakit-sakit.... teler rasanya.

Tuesday, June 23, 2009

Politisasi dibalik Nafsu

Judul posting yang aneh. Ide ini sebenarnya sudah lama ada dalam benak saya. Semenjak saya mendapatkan 4 orang kawan baru di kantor yang berprilaku aneh2, menurut kacamata saya. Pertama mengenal mereka, sepertinya mereka pribadi yang ramah dan santun. Lama bergaul, 2 minggu saja, cukup bagi saya untuk mengenal diri mereka sebenarnya. Kejutan pertama datang ketika saya tugas luar, ternyata ketika saya kembali tidak ada satupun surat masuk dan atau disposisi dari kadis. Hm.. aneh.. biasanya sehabis tugas luar, begitu hari pertama ngantor, langsung ga bisa kemana-mana karena banyak kerjaan. But, It's OK. Kejutan Kedua, ketika saya menerima komplain dari propinsi dan teman-teman guru tentang pengiriman peserta diklat. Halah... terkaget-kaget saya karena ternyata ada pengiriman guru untuk diklat kok ga melalui saya? Sudah gitu salah lagi... mate..

Kejutan selanjutnya, ketika kawan saya, salah dua dari mereka sibuk road show, mengkampanyekan penolakan terhadap saya sebagai PLH Jabatan tertentu dengan alasan SARA. Hare gene.... Gemas sekali saya sebenarnya melihat dan mengalami kejutan2 ini. Untunglah salah satu petinggi kantor secara khusus menyampaikan hal in kepada saya, khususnya kelicikan dan akal busuk kawan2. Kesimpulan atasan saya tuh, mereka mengangkat isu2 sensitif untuk kepentingan pribadi dan berujung ke duit.

Kok gitu yah? Padahal kan kita sama2 berangkat dari sekolah kok teganya melakukan cara2 inkonstitusional untuk memenuhi nafsu serakah jabatannya? Semoga Tuhan selalu melindungiku dan menyadarkan mereka akan perbuatannya yang menyakiti orang lain selain itu, dibukakan pintu kesabaran kepada mereka dalam menjalani pekerjaannya.

Cocok ga yah judulnya?

Life without Blog

Dua bulan ga ngeblog, mabok fesbuk, halah... gila bener. SEperti kuburan aja blog ini jadinya, padahal kegiatan selama dua bulan tuh banyak banget. Pertama, perkembangan putri saya yang setiap hari berubah, terlebih putri saya tuh termasuk Native Digital Generation, kenapa begitu? wong pegangannya sekarang HP ibunya. Klo saya telp selalu nyahutin heh... heh.... Kan banyak tuh ceritanya. Terus acara HUT Kotabaru ke 59, ikut rapat beberapa kali dengan panitia, ngurus kedatangan MEndiknas yang menghebohkan, selanjutnya memenuhi undangan mendiknas kepada bupati untuk wawancara di TV One tentang pedidikan gratis. BANYAK kan certinya?? Jelas banyak lagih.

Chapter 1 FACEBook
Ajakan fesbuk pertama kali klo ga salah dari rekan Adit HP di Jerman, hanya diiyakan trus sign in setelah itu dibiarin ajah. MUlai gila setelah ada beberapa confirm request dari kawan-kawan Kotabaru, si Lae Wira yang kerja di Jamsostek, Mulai aktif dikit2 ... lah... ga tahunya kebablasan sampai sekarang. Malah ikut nyebarin virus fesbuk ke setiap orang.

Chapter 2 Putriyanti
Anak saya dah mulai berdiri dan mengenal ibunya. Klo ditinggal agak lama mulai mencari. Bapaknya diingat kalau ada disampingnya saja dan kalau pas kebetulan pulang. Pastinya pertumbuhannya ke arah positif. Syukur nak, ayah ga bosan2 meminta pada yang Kuasa untuk kebaikanmu.

Chapter 3 HUT Kotabaru
Baru tahun ini benar2 terlibat, walaupun a resmi, lha ga dapet seragam kok, ini disebabkan karena permintaan pa Bupati untuk menghadirkan Mendiknas di Kotabaru. Pekerjaan raksasa. Gila bener. Prosesnya hampir 3 Bulan. Banyak cerita suka, sedikit yang duka. Semua urusan ke Mendiknas lancar jaya dan tanpa biaya ini-itu. Ga percaya? terserah aja. Semua murni karena niat yang tulus dan ikhlas untuk Kotabaru. Mendiknas datang pada tanggal 3 Juni 2009. Hanya kira2 2 jam ajah. Cuma efeknya luar biasa sekali... sampe2 Bupati diundang ke Jakarta untuk wawancara dengan TV ONe bersama 5 walkot/bupati se Indonesia dengan dasar pengelolaan pendidikan yang dianggap dapat dijadikan contoh se Indonesia. Hebat Pak Bupati!

Chapter 4 Studi Banding DPRD Batola
Klo yang ini mendampingi Pak Kadis untuk menerima kunjungan studi banding DPRD Batola ke Kotabaru tentang Pendidikan Gratis. Lumayan terbantu dengan adanya booklet dan leaflet yang sudah kami bikin. Pak Kadis ga terlalu banyak bercerita, karena di leaflet dan ooklet dapat dibaca secara lengkap dan jelas.

CHapter 5 Mulai Ngeblog Lagih
MUlai hari ini ngeblog lagi.

Dah ah... nanti diterusin lagi.